Gerrit Augustinus Siwabessy
(1914-1982)
Masa Kecil
Gerrit Augustinus Siwabessy atau G.A Siwabessy terlahir sebagai bungsu
dari empat bersaudara pada 19 Agustus 1914 di Pulau Saparua, Kabupaten
Maluku Tengah. Enoch Siwabessy, ayahnya, seorang petani cengkeh,
meninggal dunia ketika Gerrit baru berusia satu tahun. Ibunda Naatje
Manuhutu kemudian menikah lagi dengan Yakub Leuwol, seorang guru sekolah
dasar terpandang. Hal ini memungkinkan Gerrit menjalani pendidikan
dasar dan menengah dengan baik. "Beta selalu menyertai tuan guru Leuwol
yang berturut-turut ditempatkan sebagai guru di Larike, Tawiri, dan
Lateri," begitu tulis Siwabessy dalam memoarnya.
Upuleru
Siwabessy kecil harus menempuh perjalanan yang cukup jauh ke sekolah.
Karena itu Yonathan Siwabessy dan Obed Siwabessy, kedua kakaknya, sering
bergantian menggendong kakak perempuannya, Mien Siwabessy, dan
Siwabessy kecil untuk menempuh perjalanan jauh ke sekolah. Begitu juga
dengan keempat adik perempuan dari pernikahan kedua ibunya dengan Yakub
Leuwol, yaitu Lien, Mengky, Teddy dan Enny, semuanya memperoleh
pendidikan yang baik. Pada 1931, Siwabessy berhasil menyelesaikan
pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) - "Pendidikan
Dasar Lebih Luas" atau setara dengan SLTP di kota Ambon. Kemudian
Siwabessy menerima beasiswa untuk meneruskan pendidikan kedokteran ke
NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), Surabaya. Siwabessy muda
memang sangat menonjol dalam bidang akademik. Tetapi pendidikan tinggi
bagi banyak pemuda pada masa penjajahan tidak mungkin diikuti tanpa
beasiswa.
Di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen Schoo) yg merupakan Cikal Bakal
dari Fakultas Kedokteran dari Universitas Airlangga, Siwabessy banyak
bersahabat dengan pemuda dari pelbagai suku bangsa, antara lain Ibnu
Sutowo, Rubiono Kertopati, Mohammad Imam di samping sahabat-sahabatnya
dari Maluku seperti Jan Usmany, Karel Staa, Syuurt Latupeirissa, Chris
Mailoa. Pergaulannya dengan teman-teman barunya itulah yang membuka
cakrawala Siwabessy tentang Indonesia. Selain serius dalam studi,
Siwabessy juga aktif dalam organisasi mahasiswa Maluku. Di NIASl inilah
Siwabessy dipanggil dengan julukan Upuleru, yang dalam bahasa tana
(tanah, asli) Maluku Tengah artinya “dewa” atau ”pelindung”. Sebutan ini
terus dipakai oleh teman-temannya semasa perjuangan 1945. Itu sebabnya
ketika Siwabessy menulis memoarnya yang diterbitkan oleh Gunung Agung
pada 1979, disepakati judul memoar tersebut ”Upuleru”.
Jalan Terhormat
Pada akhir 1941 diberlakukan Keadaan Darurat Perang akibat ekspansi
Jepang ke Asia Tenggara dan Pasifik. Pemerintah Hindia Belanda tiba-tiba
sangat membutuhkan tenaga-tenaga dokter. Para mahasiswa NIAS
Nederlandsch Indische Artsen School yang telah lulus ujian ”Semi Arts”
(setara drs. med. atau sekarang Sarjana Kedokteran) dan telah
menyelesaikan co-schaap (praktik kepaniteraan klinik) sebelum maju untuk
ujian ”Arts” (dokter), dikerahkan memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan
sangat tergesa-gesa mereka diberangkatkan.
Siwabessy mendapat tugas istimewa di pusat pengeboran perusahaan minyak
Belanda BPM (Bataavishe Petroleum Maatshapij), Cepu, Jawa Tengah. Di
sana Siwabessy bahkan dipekerjakan sebagai seorang dokter penuh dengan
fasilitas sangat memadai. Dr. Smit, direktur rumah sakit, memperlakukan
Siwabessy sebagai kolega terhormat. Rupanya hal ini tidak terlalu
disukai oleh Zuster den Helder, seorang Belanda berperawakan tinggi
besar. Ia tidak bisa menerima bahwa seorang inlander berkulit hitam,
berambut keriting dan berperawakan kecil menjadi pimpinannya. Setiap
perintah Siwabessy selalu mendapatkan komentarnya sampai akhirnya timbul
pertengkaran terbuka. Hanya dengan perantaraan Dr Smit saja maka
persoalan ini dapat diatasi. Zuster den Helder diperingatkan bahwa
Siwabessy adalah seorang dokter yang kompeten dan diakui oleh Pemerintah
Hindia Belanda maupun BPM. Sejak peristiwa itu Siwabessy bisa bekerja
dengan tenang. Pada Maret 1942 tentara Jepang memasuki Indonesia
sehingga timbullah kekacauan. Semua orang Eropa dan para dokter yang
berdinas di BPM Cepu harus mengungsi ke Surabaya. Di kota itu Siwabessy
bertemu dengan Dr Sutjahyo, kawan lamanya di NIAS yang memegang
kedudukan penting di Bagian Radiologi dan Bagian Paru-paru Rumah Sakit
Simpang, Surabaya. Beliau meminta bantuan Siwabessy untuk memimpin
bagian radiologi. Keahlian Siwabessy pada bidang radiologi di kemudian
hari juga terasah oleh para seniornya, Dr RM Notokworo dan Dr Abdul
Rachman Saleh.
"Sebetulnya beta tidak terlalu tertarik pada radiologi. Semasa mahasiswa
beta lebih banyak tertarik pada bidang fisika, dan karena hubunganku
dengan dr. Latumeten, kepala Rumah Sakit Jiwa Lawang, beta tertarik pula
pada bidang psikiatri (ilmu jiwa klinis). Namun demikian demi
kelangsungan hidup, beta rela bekerja dalam bidang radiologi. Dengan
demikian beta masuk ke bidang yang sama sekali baru bagiku. Tidak kuduga
ketika itu, bahwa keputusan yang kuambil secara terpaksa ini akan
menentukan jalan hidup kemudian, baik di masa krisis pada pendudukan
Jepang maupun dalam masa revolusi dan masa merdeka," tulis Siwabessy
dalam memoarnya "Upuleru".
Sementara itu atas informasi Dr Aziz Saleh, Siwabessy mengetahui bahwa
di Sekolah Tinggi Kedokteran Universitas Indonesia di Batavia akan
diadakan ujian Arts. Siwabessy bersama beberapa rekan dari NIAS yang
sudah lulus Semi Arts, segera berangkat ke Batavia. Siwabessy lulus
sebagai dokter penuh pada 15 Desember 1942. Setelah kemerdekaan RI,
Siwabessy makin giat lagi dalam kegiatan organisasi kebangsaan dan di
tahun-tahun inilah ia dipertemukan dengan banyak tokoh penting nasional.
Pada 1949 dr Leimena, menteri kesehatan RI saat itu, merekomendasikan
agar Siwabessy melanjutkan pendidikan di bidang radiologi. Sebelumnya dr
Johanes telah memberikan kepadanya brevet (surat tanda bukti keahlian)
sebagai ahli radiologi. Dengan rekomendasi kedua dokter ini, Siwabessy
berhasil mendapatkan beasiswa dari British Council untuk studi lanjutan
di Universitas London. Termasuk study trip ke pusat radiologi dan pusat
kedokteran nuklir berbagai kota di Inggris : Manchester, Leeds, Edinburg
dan Glasgow.
Hal-hal pokok yang dipelajari mencakup radiologi, radioterapi, dan
pengetahuan dasar bidang atom. Lagi-lagi Siwabessy menonjol. Baru tiga
bulan mengikuti studi, ia diangkat menjadi asisten. Ini berarti,
Siwabessy dibebaskan dari tugas-tugas rutin perkuliahan seperti
mahasiswa lain pada umumnya. Bahkan diberi kepercayaan memegang sebuah
bangsal di Rumah Sakit Hammersmith, London. Tak hanya itu, seorang
sekretaris Inggris juga ditugaskan untuk membantu menyelesaikan
tugas-tugas administrasi. Suatu prestasi yang sangat luar biasa bagi
seorang Asia pada saat itu.
Pengalaman penting lainnya selama berada di Inggris, ketika Siwabessy
mempelajari sistem kesejahteraan di bidang kesehatan. Ide inilah yang ia
kembangkan di Indonesia dengan nama Asuransi Kesehatan (Askes) saat
menjabat Menteri Kesehatan.
Saat memperdalam bidang radiologi itu, Siwabessy banyak berkenalan
dengan para ahli atom dari bidang terkait, seperti fisika nuklir, kimia,
biologi, fisika-radiasi, kimia-radiasi, biologi radiasi, dan
radioterapi. Selain itu Siwabessy juga melihat bahwa pengobatan kanker
di London sudah banyak menggunakan hasil penemuan dan penyinaran atom.
Hal-hal inilah banyak memberi wawasan baru yang kelak kemudian hari
diterapkan di Indonesia. Karya Siwabessy kini juga terukir di Departemen
Radioterapi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Sebuah rumah
sakit berstandar internasional dengan peralatan sangat modern yang telah
terbukti banyak menolong para penderita kanker—termasuk kaum papa
sekalipun. Demikian juga pengobatan dengan tenaga nuklir yang ada di
RSPAD Gatot Subroto, semuanya dirintis oleh Siwabessy.
Sekembalinya dari London, Siwabessy langsung dipercayai memegang
berbagai tugas penting, antara lain : Guru Besar Luar Biasa Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; Konsultan Rumah Sakit Pusat Angkatan
Darat Gatot Subroto, Jakarta; Direktur Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta.
Ia juga mendirikan Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Pada 1952 Amerika Serikat berhasil meledakkan bom hidrogen pertama
berkode Ivy Mike di Atol Eniwetok, Kepulauan Marshall, Samudera Pasifik.
Bagian dari rangkaian percobaan bom nuklir yang sudah dimulai sejak
1948 (berakhir 1958; total 43 percobaan) di kepulauan tersebut. Khawatir
terhadap dampak percobaan bom nuklir tersebut bagi Indonesia, Presiden
Sukarno menunjuk Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan yang dipimpin
oleh Siwabessy untuk mengatasi masalah ini. Pada 1954, dibentuklah
Panitia Penyelidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom yang diketuai
Siwabessy dengan para anggotanya terdiri dari elemen-elemen Angkatan
Darat, Angkatan Udara, Badan Metereologi, (UI), Universitas Gadjah Mada,
Institut Teknologi Bandung (ITB), dan RSPAD Gatot Subroto.
Pada 1954 itu juga Siwabessy membentuk Lembaga Tenaga Atom yang berada
di bawah Sekretariat Negara dan Siwabessy sebagai direkturnya. Selain
itu negara juga memandang perlu agar didirikan fakultas yang mempelajari
ilmu dasar di bidang fisika, kimia dan matematika untuk menghasilkan
tanaga ahli. Lagi-lagi Siwabessy ditunjuk pemerintah untuk
mewujudkannya. Sebagai pendiri Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam
Universitas Indonesia, Siwabessy ditunjuk sebagai Dekan FIPIA UI pertama
(1963-1965).
Tahun 1962 Presiden Sukarno meresmikan berdirinya Badan Tenaga Atom
Nasional (BATAN), berada langsung di bawah( presiden, dan Siwabessy
sebagai Direktur Jenderal BATAN pertama. Pada 1965 ia diangkat sebagai
Menteri Badan Tenaga Atom Nasional.
Atas jasa-jasanya yang sangat besar dalam memajukan tenaga atom di
Indonesia, seperti membangun reaktor nuklir dan banyak penelitian
penting lainnya, Siwabessy yang adalah juga Bapak Atom Indonesia,
menerima Bintang Mahaputera III pada 1976. Namanya juga diabadikan oleh
negara pada sebuah reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara berkekuatan
30 MW yaitu Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG GA Siwabessy)
berlokasi di Serpong, Tangerang, Jawa Barat (Skr Prov Banten), yang
diresmikan Presiden Soeharto pada 20 Agustus 1987.
Reaktor Serba Guna - G.A. Siwabessy
disingkat RSG-GAS, atau Multipurpose Reactor—G.A. Siwabessy, adalah
sebuah reaktor nuklir serbaguna berkapasitas 30 MWth milik Indonesia.
Reaktor nuklir ini dibuat oleh Interatom Internationale anak perusahaan
dari perusahaan pembuat besi baja asal Jerman Barat Kraftwerke Union,
dengan berbiaya USD 50 juta , ini terletak di Serpong, Propinsi
Banten.[1] Reaktor yang diresmikan tahun 1987 ini dioperasikan oleh
Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Reaktor ini merupakan reaktor nuklir
terbesar dan terbaru milik Indonesia (mengecualikan program modernisasi
yang dilakukan terhadap Pusat Penelitian Tenaga Nuklir (PPTN) Bandung
pada tahun 2000).
Pada 1966 Siwabessy diangkat Presiden Soekarno menjadi Menteri
Kesehatan. Tugas ini diembannya hingga 29 Maret 1978 semasa pemerintahan
Presiden Soeharto. Selama masa jabatannya itu, Siwabessy merangkap
sebagai Ketua Tim Dokter Pribadi Presiden. Pada masa itu banyak sekali
program yang telah Siwabessy lakukan dalam lingkup kesehatan. Mulai dari
program Keluarga Berencana (KB), Puskesmas, Askes, Balai Kesehatan Ibu
dan Anak (BKIA), penanggulangan penyakit menular seperti malaria, TBC,
cacingan, kolera, tifus, disentri, sampai dengan upaya penanggulangan
penyakit kanker. Siwabessy sendiri tercatat sebagai salah seorang
pendiri Yayasan Kanker Indonesia. Kerja keras ini tidak terlepas dari
keluwesan diplomasi Siwabessy dengan para sahabatnya yang berada di luar
negeri dan juga dengan berbagai organisasi internasional, antara lain
badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti World Health
Organization, UNICEF, United Nations Development Programme(UNDP), maupun
lembaga-lembaga lainnya seperti United States Agency for International
Development (USAID) dan Medicare (menyangkut perawatan kesehatan).
Siwabessy juga tercatat sebagai pelopor kerjasama di bidang kesehatan
dengan Amaerika Serikat. Lembaga-lembaga yang banyak memberikan bantuan
teknis maupun keuangan. Untuk jasa-jasanya di bidang kesehatan,
Siwabessy dianugerahi Bintang Mahaputera II pada tahun 1978.
Mengabdi hingga akhir hayat
Selepas tugas sebagai anggota kabinet, Siwabessy diminta menjadi anggota
Dewan Pertimbangan Agung yang bertugas sebagai Penasehat Presiden.
Kepercayaan ini dijalani sejak 1978 sampai akhirnya Siwabessy meninggal
di suatu malam yang tenang pada 11 November 1982, Jakarta.
27 tahun setelah Siwabessy berpulang, Universitas Indonesia pada Juni
2009 memberikan menamai salah satu jalan di kompleks kampus itu di
Depok, Jl. Prof. Dr. G.A. Siwabessy sebagai salah satu begawan ilmu yang
telah mengabdi bagi Universitas Indonesia dan Indonesia
Program Nuklir Indonesia
Program Nuklir Indonesia merupakan program Indonesia untuk membangun dan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir baik di bidang
non-energi maupun di bidang energi untuk tujuan damai. Pemanfaatan
non-energi di Indonesia sudah berkembang cukup maju. Sedangkan dalam
bidang energi (pembangkitan listrik), hingga tahun 2011 Indonesia masih
berupaya mendapatkan dukungan publik, walaupun sudah dianggap kalangan
internasional bahwa Indonesia sudah cukup mampu dan sudah saatnya
menggunakannya.
Kegiatan pengembangan dan pengaplikasian teknologi nuklir di Indonesia
diawali dari pembentukan Panitia Negara untuk Penyelidikan
Radioaktivitet tahun 1954. Panitia Negara tersebut mempunyai tugas
melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya jatuhan radioaktif
dari uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik.
Dengan memperhatikan perkembangan pendayagunaan dan pemanfaatan tenaga
atom bagi kesejahteraan masyarakat, maka melalui Peraturan Pemerintah
No. 65 tahun 1958, pada tanggal 5 Desember 1958 dibentuklah Dewan Tenaga
Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang kemudian disempurnakan menjadi
Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) berdasarkan UU No. 31 tahun 1964
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. Selanjutnya setiap
tanggal 5 Desember yang merupakan tanggal bersejarah bagi perkembangan
teknologi nuklir di Indonesia dan ditetapkan sebagai hari jadi BATAN.
Pada perkembangan berikutnya, untuk lebih meningkatkan penguasaan di
bidang iptek nuklir, pada tahun 1965 diresmikan pengoperasian reaktor
atom pertama (Triga Mark II) di Bandung. Kemudian berturut-turut,
dibangun pula beberapa fasilitas litbangyasa yang tersebar di berbagai
pusat penelitian, antara lain Pusat Penelitian Tenaga Atom Pasar Jumat,
Jakarta (1966), Pusat Penelitian Tenaga Atom GAMA, Yogyakarta (1967),
dan Reaktor Serba Guna 30 MW (1987) disertai fasilitas penunjangnya,
seperti: fabrikasi dan penelitian bahan bakar, uji keselamatan reaktor,
pengelolaan limbah radioaktif dan fasilitas nuklir lainnya.
Sementara itu dengan perubahan paradigma pada tahun 1997 ditetapkan UU
No. 10 Tentang Ketenaganukliran yang diantaranya mengatur pemisahan
unsur pelaksana kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir(BATAN)dengan unsur
pengawas tenaga nuklir (BAPETEN).
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) didirikan tahun 1998. Penelitian
energi atom dimulai di Indonesia. Selain untuk memproduksi listrik,
teknologi nuklir juga digunakan untuk kegunaan medis, manipulasi
genetika dan agrikultur.
Rencana untuk program PLTN dihentikan tahun 1997 karena penemuan gas
alam Natuna dan krisis ekonomi dan politik. Tetapi program ini kembali
dijalankan sejak tahun 2005.
Indonesia menyatakan bahwa, sebagai penandatangan NPT (Non-proliferation
Treaty) dan Comprehensive Safeguard Agreement program akan berkembang
dengan pantauan International Atomic Energy Agency (IAEA). Oleh sebab
itu, Mohammed ElBaradei diundang untuk mengunjungi negara ini pada
Desember 2006. Protes terhadap rencana ini muncul pada Juni 2007 didekat
Jawa Tengah dan juga lonjakan pada pertengahan 2007. Pada maret 2008 ,
melalui menteri Riset dan Teknologi, Indonesia memaparkan rencananya
untuk membangun 4 buah PLTN berkekuatan 4800 MWe (4 x 1200 MWe)
Lokasi reaktor nuklir:
Untuk penelitian, reaktor riset telah dibuat di Indonesia:
1.Bandung, Jawa Barat. Pusat Penelitian Tenaga Nuklir (PPTN) Bandung.
(reaktor Triga Mark II - berkapasitas 250 kW diresmikan 1965 , kemudian
ditingkatkan kapasitasnya menjadi 2 MW pada tahun 2000 ).
2. Yogyakarta, Jawa Tengah (Reaktor penelitian nuklir Kartini - kapasitas 100 kW operasi sejak 1979).
3.Serpong (Banten). (reaktor penelitian nuklir MPR RSG-GA Siwabessy - kapasitas 30 MW diresmikan tahun 1987).
Berbagai lokasi yang dipelajari kelayakannya sebagai calon tapak untuk membangun reaktor untuk memproduksi listrik (PLTN):
- Muria, Jawa Tengah.
- Bangka, Provinsi Bangka Belitung.
Berdasarkan UU No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, PLTN hanya
dapat dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan swasta, BUMN atau
Koperasi. Sedangkan BATAN berkewajiban menyiapkan infrastruktur dasar
seperti persiapan SDM, studi kelayakan calon tapak, kajian teknologi
sebagai TSO (technical support organization), dan pengolahan limbah.
Sumber daya alam
Indonesia memiliki dua lokasi eksplorasi uranium, yaitu t[b]ambang
Remaja-Hitam dan tambang Rirang-Tanah Merah. Kedua uranium tersebut
terletak di Kalimantan Barat. Jika uranium tidak cukup, Indonesia
memiliki pilihan mengimpor uranium yang banyak tersedia di pasaran
internasional.
Indonesia memiliki beberapa alasan untuk membangun reaktor tersebut:
1. Konsumsi energi Indonesia yang besar dengan jumlah penduduk 237 juta (sensus 2010).
2. Nuklir akan mengurangi ketergantungan akan petroleum dan bahan bakar fosil.
3. Jika konsumsi energi dapat disediakan dengan nuklir, Indonesia dapat memproduksi lebih banyak minyak bumi.
4. Memproduksi energi yang dapat diperbaharui lainnya, seperti angin dan tenaga matahari lebih mahal.
5. Jepang, seperti Indonesia, sering terkena gempa bumi, tetapi memiliki reaktor nuklir.
6. Polusi udara, efek rumah kaca dan Emisi gas dapat dikurangi secara signifikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar